Opening

WELCOME AND HAPPY READING

Kamis, 13 Juni 2013

Cerpen - Jatuh Cinta Diam-Diam



Cerpen
Jatuh Cinta Diam-Diam

                Andreas Raditya nama lengkapnya. Murid kelas XI-C. Wajahnya cukup tampan, kulitnya putih dan tinggi. Ia pintar dan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dia juga mempunyai hobi bernyanyi dan  bermain musik, banyak alat musik yang  ia kuasai dengan baik.
                Tapi, bukan itu yang membuat aku suka padanya. Lepas dari semua yang Andreas miliki, dia tetap baik dan tidak sombong. Ia murah senyum. Dia juga tidak pernah berbuat ulah dan menjadi anak kesayangan para guru. Tak jarang pula aku melihatnya membantu teman-teman yang belum mengerti pelajaran.
                Itulah yang membuat aku suka padanya. Mengenai perasaanku dengannya mungkin hanya aku dan Tuhan yang tau. Oh iya, ada satu orang lagi yang tahu, namanya Sarah, sahabatku. Berbeda denganku, dia sudah sering kali bergonta-ganti pacar. Meskipun begitu, Sarah itu baik dan dapat dipercaya.
                “Wah, kok kamu bisa tahu banyak tentang Andreas? Padahalkan kita beda kelas dan kamu belum pernah berbicara dengannya?” tanya Sarah heran saat aku menceritakan banyak tentang Andreas padanya.
                “Yah begitulah, orang yang jatuh cinta diam-diam mencari tahu informasi orang yang ia suka dengan diam-diam juga.” jawabku sembari membungkus mie ayam jualanku dan menyerahkannya kepada pelanggan.
                Sepertinya Sarah masih  ingin bertanya lagi, tetapi pelanggan ‘Misterius’ ku  lebih dulu datang. Kenapa aku bilang pelanggan ‘Misterius’? itu karna hampir setiap hari ia membeli mie ayamku tanpa berbicara. Ia hanya memberikan kertas berisi pesanannya dan menunggu di motornya tanpa membuka jaket ataupun helmnya.
                “Mie ayam baso, tidak pakai sambal dan pangsit goreng, satu porsi dibungkus.” Sarah membaca kertas pesanan itu dari belakangku, “wah, seleranya sama nih seperti Andreas.” goda Sarah.
                Ya, seleranya memang sama. Andreas tidak suka makan yang pedas-pedas dan gorengan demi suaranya. Tapi Andreas tidak sesombong dia, masa berbicara dengan tukang mie ayam saja tidak sudi?
                “terus Vi, apa jangan-jangan kamu masuk eskul musik supaya bisa dekat dengan Andreas?” lanjut Sarah.
                Aku hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan Sarah. Tapi aku rasa Sarah sudah mengerti apa jawabannya. Ia tersenyum dan menganguk perlahan.
                Setelah pesanan siap, aku langsung memberikannya kepada si pelanggan ‘Misterius’ yang menunggu di motornya. Ia memberikan selembar uang dua puluh ribu rupiah. Saat aku ingin menggambil uang kembaliannya, ia malah menyalakan motornya dan pergi.
                “Tunggu, kembaliannya belum!” teriakku kewalahan. Tetapi motor itu tidak berhenti.
                “Vivi, apa uangnya lebih lagi?” tanya Sarah.
                “Iya nih. Besoknya dikasih juga ditolak..”
                “mungkin memang sudah rejekimu, Vi.” timpal Sarah
                Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa melihat orang yang ia suka dari kejauhan. Seperti yang biasa aku lakukan saat di kantin atau saat melewati kelasnya atau seperti yang aku lakukan sekarang. Menunggunya dari kejauhan ia menaiki motornya dan pulang.
                Tapi kelihatannya hari ini aku kurang beruntung. Aku tidak menemukan motor Andreas dimanapun. Apa mungkin ia sudah pulang? Dengan langkah gontai, aku berjalan seorang diri menuju halte bus. Sedangkan Sarah sudah dijemput pacarnya.
                Halte masih penuh dengan siswa sisiwi. Tak lama kemudian, bus datang dan segera diserbu oleh para siswa. Setelah berdesakan, aku mengalah. Akhirnya bus berjalan meninggalkan aku seorang diri. 
                Untungnya beberapa menit kemudian datang bus lainnya. Aku segera naik dan menemukan dua kursi kosong bersebelahan. Aku duduk didekat jendela disusul seseorang yang kemudian duduk disampingku. Ketika aku menoleh ke sebelahku, jantungku terasa berhenti berdetak.
                Bagaimana mungkin Andreas bisa duduk di sebelahku? Aku jadi salah tingkah dan memalingkan wajahku keluar jendela sebelum ia melihatku. Lalu, ku cubit pipiku. Sakit, rintihku dalam hati. Tapi aku tersenyum, karna tandanya ini bukan mimpi.
                Sore harinya saat Sarah datang ke rumah, aku menceritakan semua padanya.
“Senang donk!” responnya ikut senang.
                “Hehehe...” aku tertawa dan tersipu.
                Selang beberapa saat, si pelanggan ‘Misterius’ datang.
                “Mie ayam baso, tidak pakai sambal dan pangsit goreng, satu porsi dibungkus, kan? Duduk saja dulu, akan segera aku buatkan.” Ujarku sebelum ia sempat menyerahkan selembar kertas. Aku langsung membuatkan pesanannya.
                “Jadi, Vi…” lanjut Sarah yang juga membantuku, “Kenapa tidak kau katakan saja perasaanmu itu padanya?”
                “Hah?” seruku terkejut, “Sarah, kau yang benar saja…”
“Lho? Memangnya ada yang salah? Kan hanya mengatakan perasaanmu saja…”
“Tapi…”
“Tapi apa? Nanti kamu yang akan menyesal Vi, kalau seperti ini terus.” Nasihat Sarah.
                Aku terdiam. Apa pantas orang biasa sepertiku menyatakan perasaan kepadanya? Aku bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengannya.
                Setelah pesanan selesai dibungkus, aku memberikannya kepada si pelanggan ‘Misterius’ yang duduk di salah satu kursi.
                “Tidak usah bayar, kemarin uangnya sudah sisa banyak.” kataku seraya memberikan pesanannya. Anehnya, tanpa berkata-kata ia menuruti kataku, menaiki motornya dan pergi.
                “Kamu salah sangka, Vi…” Kata Sarah seperti bisa membaca pikiranku. Ia menunjuk ke arah meja makan yang ditempati si pelanggan ‘Misterius’ barusan. Selembar uang dua puluh ribu rupiah tergeletak disana.
                “Orang aneh.” Kataku setelah  sadar.
                “Bukan, tapi orang yang sangat aneh.” Sarah membetulkan.
                Waktu berjalan terus menerus tanpa bisa kuhentikan. Tak terasa, pengumuman kelulusan telah kulewati. Dan rasa sukaku pada Andreas tak pernah berubah. Kami akan berpisah, tanpa pernah dia tahu bagaimana rasa cintaku kepadanya.
                “Sabar ya, Vi…” Hibur Sarah ketika pelanggan terakhir pergi.
                Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
                Si pelanggan ‘Misterius’ itu datang lagi. Tanpa membaca isi kertasnya, dengan malas kubuatkan pesanannya.
                “Kamu harus bisa melupakan Andreas, Vi.” Saran Sarah.
                “Kamu benar. Memang pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa menerima bahwa orang yang ia cintai…” Kalimatku belum selesai, namun seseorang melanjutkannya.
                “Mencintainnya juga.”
                Jelas itu bukan suara Sarah. Itu suara laki-laki. Dan sepertinya aku mengenal dekat suara itu… Saat aku menoleh kebelakang, si pelanggan ‘Misterius’ itu sudah membuka helmnya. Tampaklah wajah Andreas dengan senyumnya yang mengarah kepadaku.
                Dan mungkin,
Cinta diam-diamku akan berakhir disini.
Selesai

Thx for searching and reading. Your comment please :)

Puisi - Idolaku





Puisi
 Idolaku


Ada sebuah ruang dihatiku
Dipenuhi oleh mereka
Karna mereka membuatku terpaku
Akan segala pesonanya

Bagiku begitu sempurna
Dan tak dapat terlupakan
Sebuah rasa suka
Yang tak bisa dihentikan

Ada rasa bahagia
Ketika melihat mereka
Buatku selalu berusaha
Mencari segala tentang mereka

Memandangnya dari kejauhan
Tanpa bisa menggapainya
Membayangkan sebuah kemungkinan
Dapat merasakan pelukannya

Slalu membuatku terkagum-kagum
Bisa membuatku terhibur dan tersenyum
Bahkan memberi motivasi untukku
Ya, mereka adalah idolaku



Thx for searching and reading. Your comment please :)

Rabu, 12 Juni 2013

Puisi - Aku Sudah Bisa Melupakanmu

Puisi


Aku Sudah Bisa Melupakanmu


Dulu semuanya telah aku lakukan
Dulu semuanya telah aku relakan
Semuanya agar kita dapat berdekatan

Sampai akhirnya aku tahu
Kau takkan bisa mencintaiku
Seperti aku mencintaimu

Sekarang aku mengerti
Akan takkan mengingatmu lagi
Walau terasa pedih dihati

Jika sekarang aku menangis mengingat dirimu
Jika sekarang aku bersedih membayangkanmu
Jika sekarang hatiku hancur tiap bertemu

Tapi suatu hari nanti kau akan tahu
Aku akan tertawa mengingat dirimu
Dan tersenyum tiap bertemu

Karna aku betul tahu
Sepenuhnya pada saat itu
Aku sudah bisa melupakanmu

Thx for searching and reading. Your comment please :)