Cerpen
Jatuh Cinta Diam-Diam
Andreas Raditya
nama lengkapnya. Murid kelas XI-C. Wajahnya cukup tampan, kulitnya putih dan
tinggi. Ia pintar dan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dia juga
mempunyai hobi bernyanyi dan bermain
musik, banyak alat musik yang ia kuasai
dengan baik.
Tapi,
bukan itu yang membuat aku suka padanya. Lepas dari semua yang Andreas miliki,
dia tetap baik dan tidak sombong. Ia murah senyum. Dia juga tidak pernah
berbuat ulah dan menjadi anak kesayangan para guru. Tak jarang pula aku
melihatnya membantu teman-teman yang belum mengerti pelajaran.
Itulah
yang membuat aku suka padanya. Mengenai perasaanku dengannya mungkin hanya aku
dan Tuhan yang tau. Oh iya, ada satu orang lagi yang tahu, namanya Sarah,
sahabatku. Berbeda denganku, dia sudah sering kali bergonta-ganti pacar.
Meskipun begitu, Sarah itu baik dan dapat dipercaya.
“Wah,
kok kamu bisa tahu banyak tentang Andreas? Padahalkan kita beda kelas dan kamu
belum pernah berbicara dengannya?” tanya Sarah heran saat aku menceritakan
banyak tentang Andreas padanya.
“Yah
begitulah, orang yang jatuh cinta diam-diam mencari tahu informasi orang yang
ia suka dengan diam-diam juga.” jawabku sembari membungkus mie ayam jualanku
dan menyerahkannya kepada pelanggan.
Sepertinya
Sarah masih ingin bertanya lagi, tetapi
pelanggan ‘Misterius’ ku lebih dulu
datang. Kenapa aku bilang pelanggan ‘Misterius’? itu karna hampir setiap hari
ia membeli mie ayamku tanpa berbicara. Ia hanya memberikan kertas berisi
pesanannya dan menunggu di motornya tanpa membuka jaket ataupun helmnya.
“Mie
ayam baso, tidak pakai sambal dan pangsit goreng, satu porsi dibungkus.” Sarah
membaca kertas pesanan itu dari belakangku, “wah, seleranya sama nih seperti
Andreas.” goda Sarah.
Ya,
seleranya memang sama. Andreas tidak suka makan yang pedas-pedas dan gorengan
demi suaranya. Tapi Andreas tidak sesombong dia, masa berbicara dengan tukang
mie ayam saja tidak sudi?
“terus
Vi, apa jangan-jangan kamu masuk eskul musik supaya bisa dekat dengan Andreas?”
lanjut Sarah.
Aku
hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan Sarah. Tapi aku rasa Sarah sudah
mengerti apa jawabannya. Ia tersenyum dan menganguk perlahan.
Setelah
pesanan siap, aku langsung memberikannya kepada si pelanggan ‘Misterius’ yang menunggu
di motornya. Ia memberikan selembar uang dua puluh ribu rupiah. Saat aku ingin
menggambil uang kembaliannya, ia malah menyalakan motornya dan pergi.
“Tunggu,
kembaliannya belum!” teriakku kewalahan. Tetapi motor itu tidak berhenti.
“Vivi,
apa uangnya lebih lagi?” tanya Sarah.
“Iya
nih. Besoknya dikasih juga ditolak..”
“mungkin memang sudah rejekimu,
Vi.” timpal Sarah
Orang
yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa melihat orang yang ia suka dari kejauhan.
Seperti yang biasa aku lakukan saat di kantin atau saat melewati kelasnya atau
seperti yang aku lakukan sekarang. Menunggunya dari kejauhan ia menaiki
motornya dan pulang.
Tapi
kelihatannya hari ini aku kurang beruntung. Aku tidak menemukan motor Andreas dimanapun.
Apa mungkin ia sudah pulang? Dengan langkah gontai, aku berjalan seorang diri
menuju halte bus. Sedangkan Sarah sudah dijemput pacarnya.
Halte
masih penuh dengan siswa sisiwi. Tak lama kemudian, bus datang dan segera
diserbu oleh para siswa. Setelah berdesakan, aku mengalah. Akhirnya bus
berjalan meninggalkan aku seorang diri.
Untungnya
beberapa menit kemudian datang bus lainnya. Aku segera naik dan menemukan dua
kursi kosong bersebelahan. Aku duduk didekat jendela disusul seseorang yang
kemudian duduk disampingku. Ketika aku menoleh ke sebelahku, jantungku terasa
berhenti berdetak.
Bagaimana mungkin Andreas bisa
duduk di sebelahku? Aku jadi salah tingkah dan memalingkan wajahku keluar
jendela sebelum ia melihatku. Lalu, ku cubit pipiku. Sakit, rintihku dalam
hati. Tapi aku tersenyum, karna tandanya ini bukan mimpi.
Sore
harinya saat Sarah datang ke rumah, aku menceritakan semua padanya.
“Senang donk!”
responnya ikut senang.
“Hehehe...”
aku tertawa dan tersipu.
Selang
beberapa saat, si pelanggan ‘Misterius’ datang.
“Mie
ayam baso, tidak pakai sambal dan pangsit goreng, satu porsi dibungkus, kan?
Duduk saja dulu, akan segera aku buatkan.” Ujarku sebelum ia sempat menyerahkan
selembar kertas. Aku langsung membuatkan pesanannya.
“Jadi,
Vi…” lanjut Sarah yang juga membantuku, “Kenapa tidak kau katakan saja
perasaanmu itu padanya?”
“Hah?”
seruku terkejut, “Sarah, kau yang benar saja…”
“Lho? Memangnya ada yang salah?
Kan hanya mengatakan perasaanmu saja…”
“Tapi…”
“Tapi apa? Nanti kamu yang akan
menyesal Vi, kalau seperti ini terus.” Nasihat Sarah.
Aku
terdiam. Apa pantas orang biasa sepertiku menyatakan perasaan kepadanya? Aku
bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengannya.
Setelah
pesanan selesai dibungkus, aku memberikannya kepada si pelanggan ‘Misterius’
yang duduk di salah satu kursi.
“Tidak
usah bayar, kemarin uangnya sudah sisa banyak.” kataku seraya memberikan
pesanannya. Anehnya, tanpa berkata-kata ia menuruti kataku, menaiki motornya
dan pergi.
“Kamu
salah sangka, Vi…” Kata Sarah seperti bisa membaca pikiranku. Ia menunjuk ke
arah meja makan yang ditempati si pelanggan ‘Misterius’ barusan. Selembar uang
dua puluh ribu rupiah tergeletak disana.
“Orang
aneh.” Kataku setelah sadar.
“Bukan, tapi orang yang sangat
aneh.” Sarah membetulkan.
Waktu
berjalan terus menerus tanpa bisa kuhentikan. Tak terasa, pengumuman kelulusan
telah kulewati. Dan rasa sukaku pada Andreas tak pernah berubah. Kami akan
berpisah, tanpa pernah dia tahu bagaimana rasa cintaku kepadanya.
“Sabar
ya, Vi…” Hibur Sarah ketika pelanggan terakhir pergi.
Aku
hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Si
pelanggan ‘Misterius’ itu datang lagi. Tanpa membaca isi kertasnya, dengan
malas kubuatkan pesanannya.
“Kamu
harus bisa melupakan Andreas, Vi.” Saran Sarah.
“Kamu
benar. Memang pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa
menerima bahwa orang yang ia cintai…” Kalimatku belum selesai, namun seseorang
melanjutkannya.
“Mencintainnya
juga.”
Jelas
itu bukan suara Sarah. Itu suara laki-laki. Dan sepertinya aku mengenal dekat
suara itu… Saat aku menoleh kebelakang, si pelanggan ‘Misterius’ itu sudah
membuka helmnya. Tampaklah wajah Andreas dengan senyumnya yang mengarah
kepadaku.
Dan
mungkin,
Cinta
diam-diamku akan berakhir disini.
Selesai
Thx for searching and reading. Your comment please :)